KAMI SELALU SAMA

“DIA TERLALU MENGGODA”
“Bahasamu lah..”
“Tapi seriusan, dia terlalu menggoda tan..” Ucapku melalui sambungan telepon malam itu.
“Dia yang menggoda apa kamu yang tergoda?” Tanyanya. Aku berfikir sejenak.
“Aku yang tergoda tan haha”
“Udahlah, move on sih. Dia tuh gak baik, kmaren aku liat sisi buruk dia kayaknya kluar gitu.”
“Iya, aku tau. Aku udah tau dari dulu, dulu sempet dia gitu juga. Emosional, tapi itu dulu. Dan mungkin skarang emang kambuh lagi?” Sanggahku kukuh mempertahankannya.
“Ya gatau itu, aku juga ga bisa move on koh zul. Padahal tadinya udah biasa aja, eh pas ulang tahun ku jadi malah muncul lagi prasaan itu wk.”
“Tuh kan, move on itu susah. Apalagi kalo udah sayang, mau dia emosional kayak dia juga masih susah move on-nya. Jujur ya tan, dia itu pengendali emosi aku. Stelah aku udahan sama dia, aku ngerasa tambah emosional banget. Aku butuh dia hwaaaaa..”
“Ya kamu gaboleh gitu, kalo emang dia udah gabisa diarepin yaudah. Kamu juga harus blajar dewasa lah, kendaliin emosi kamu. Jangan tergantung sama dia.” Jujur, perkataan Intan memang benar. Sangat benar, namun apadaya berubah itu susah. Apalagi jika memang tidak ada niat untuk berubah.
“Yaudah iya gampang, tapi pengen balik kayak dulu. Coba aja ya dulu aku ga ini, ga itu. Tapi emang dianya juga salah sih -_-”
“Ikhlasin lah zul hehe”
“Semoga aja bisa wk. Eh tan, cita-cita mu apa? Kamu mau jadi apa? Aku gatau koh >,
“Aku juga belum tau zul haha”
“Aku apayaa? Ah aku mau jadi pendamping dia aja wkwk. Jadi tuh sbenernya kita itu jodoh di masa depan, cuman gara-gara suaru hal tuh kita dipisahin dulu. Ntar dimasa depan pasti ktemu wkwk.”
“Aduh tambah nglantur ya Zul.. Aku dah mikir kamu pasti mau jawab gitu, ya Amin ajalah. Yaudah gih sanah kamu blajar. Udahan dulu ya telponnya. ”
“Ohh oke oke, kamu juga blajar sanah. Makasih ya Intanooo :3”
“Haha iya sama-sama. Byee.”
“Okedoci, bye.”

Begitulah obrolan ringan kami malam lalu. Ringan, tapi mengena. Ringan, namun dapat saling melegakan hati. Kami berharap per-sahabatan kami akan tetap selalu seperti saat kami bersama, walaupun terdapat jarak. Aku tak ingin sahabatku direbut orang lain, dia terlalu berharga. Aku merindukan kalian sahabat, tidak hanya Intan. Kalian! Sahabat masa SMA yang selalu tersimpan dalam memori. Yang aku harapkan kami akan selalu menjadi sahabat hingga kami tua. Hingga kami telah berkeluarga, saling menjodohkan anak-anak kami mungkin? Haha. Baik-baik ya kalian disana, INGAT DAN RINDUKAN AKU SELALU ♥ AKU TIDAK INGIN DILUPAKAN! CAMKAN ITU SAHABAT!

Iklan

Pagelaran Kita

Pagelaran Kita

Masih ingatkah engkau? Kalian? Kita?
Saat pagelaran itu, dimana kita saling menguatkan. Saling mendukung. Saling berdoa. Dan saling segalanya, entahlah. Aku bingung mengungkapkannya.
Aku hanya ingin mengutarakan jika aku rindu “kalian semua”. Aku rindu kita. Walaupun kelas yang tidak terlalu damai, namun aku bahagia berada di tempat itu. Kelas pojok kantin yang pengap haha, ah ingin rasanya aku memutar waktu dan berhenti pada masa kita saling tertawa bersama. Saling mencurahkan isi hati dan kegalauan. Saat kita berjuang bersama saat ulangan.
Arien Riki? Apakah engkau ingat saat kita selalu duduk bersebelahan saat ulangan Pkn? Suatu kebenaran kawan, kita selalu bersebelahan saat ulangan itu :”) saat aku dan engkau saling bekerjasama dan mendapat hasil yang lumayan. Aku sungguh rindu itu. Saat kelas kita sukses menuju Yogyakarta, engkau yang menyebabkan itu terjadi. Engkau yang membuat kami menjadi satu, aku sungguh rindu dirimu. Engkau yang selalu bersedia mendengarkan rengekan dan curahanku tentang dia. Engkau yang selalu memberikan nasehat berarti.
Kalian? Apakah kalian sama seperti diriku yang merindukan kita? Ataukah hanya aku saja yang merindukan kalian? Mungkinkah kita bisa kembali seperti dulu? Mengulang masa-masa indah itu? Aku sungguh merindukan “kita”.

Sang Mantan

Munafik, sangat munafik. Menyuruh sang mantan untuk bersegera mencari seorang wanita lain. Padahal ia masih mengharapkan sang mantan kembali padanya. Dan masih menyayangi sang mantan

Secercah Penyesalan

Seorang lelaki berjiwa lembut, selembut kapas, seputih salju. Ia merutuki kesalahannya. Penyesalan melepaskan seorang yang sangat ia kasihi. Alasan? Ingin sang wanita bisa lebih bahagia dengan lelaki lain.

Sang wanita menerima keputusan mantan lelakinya, ia menganggap memang ia sudah tidak dibutuhkan. Ia sudah tidak diinginkan. Baiklah sang wanita juga tidak akan mengusik mantan kekasihnya itu lagi.

Mereka sama-sama bodoh, tidak ada yang berusaha mempertahankan cinta mereka. Mengapa mereka tidak saling memperbaiki kesalahan dan bersabar dengan sifat pasangan masing-masing? Tidak ada yang sempurna si dunia ini. Semua mempunyai kelemahan, dan itu pasti. Dan yang terakhir muncul terlambat adalah penyesalan.

Oktober Wish

Berharap semua akan menjadi lebih baik. Tanpa air mata kesedihan, dan dengan air mata kesenangan. Berharap semua akan menjadi indah, berharap luka ini akan segera tertutup. Berharap dia tau, bahwa aku masih setia disini mencintainya.