HITAM

Hitam seketika datang menghampiri dan berkata padaku “hai aku kembali, apa kau mengharapkanku?” Tidak, aku sangat tidak berharap engkau kembali padaku. Pergilah saja urusi hidupmu dan jangan usik hidupku lagi. Hidupku akan indah tanpanmu, aku berterimakasih kau bersedia menjengukku jika aku terlelap dengan buaian. Hitam itu dia, dia yang hidupnya tak aku usik namun dia selalu menyapaku “aku tak rela kau bahagia.’ Apa urusanmu pada hidupku? Hidupmu saja entah seperti apa. Apa kau bahagia, hitam? Apa kau hanya ingin menjerumuskanku agar sepertimu? Hitam, bagai tak ada harapan untuk putih. Dan teruntukmu hitam, ‘Aku akan selalu mencoba hidup dan bahagia, bukan hanya sekedar bertahan hidup.’ Amiin

Seberapa Pantas

Ingatkah engkau dengan mawarmu?

Seenaknya berlalu dan menghilang

Merasa hebat kah dirimu

Hah, iya kau memang yang pertama

Terindah dan terdalam

Rasaku ini terlanjur membatu

Namun kau acuh

Waktu?

Seberapa pantas aku mengharapkannya

Hanya menunggu terpaku dan berlalu

Maret’ 14 (Zulfa Husna)

Tengoklah Masa Depan

Aku berbisik pada lorong ini

Sendiri, dalam sepi

Aku tak mengenalmu seperti mereka

Kita tidak terikat apapun

            Sial, alam seperti tertawa

            Sedangkan aku tak tahu harus apa

            Berpasrah diri dan percaya akan takdir?

            Itu bukan usaha

Lalu aku harus bagaimana?

Agar kita dapat bersatu

Percaya, berduka dan tertawa

Bersama

            Namun,

            Hidup bukan hanya tentang aku dan kamu

            Banyak yang harus aku beri untaian emas dan berlian serta mawar

            Dan pada akhirnya

            Mungkin ini jalan yang terbaik

            Tetapi, pastinya..

            Tengoklah saja masa depan

            Antara aku dan kamu

Maret ’14 (Zulfa Husna.)

We Can Fly Together

Speaker mungilku berbusa

Memekikkan seribu bahasa

Demi menjinjing sahabatku

Ke dalambalutan emas

Dan takkan ku biarkan ia

Tersia detik ini

            Bola terang sunggingkan senyumnya

            Pada kita

            Yang tengah tertawa mesra

            Tak peduli

            Pada lambaian angina

            Yang memanggil berulang

            Entah untuk apa

Dia berusaha kepakkan sayapnya

Sementara aku

Tersibukkan dengan berjuta tarian

Tuk menimbun keinginan

Dan persiapkan tundukan

Memandang barisan ilalang kerdil

Tegang

            Bulatan biru mencibirku

            Semburkan pahit

            Yang mungkin terjepit di telinga

            Diantara sedakan dosa

Jantungku berhenti berdetak

Ketika ku sadari

Seuntai bunga menanti senyumku

Karma ia membaca

Seuntai kata yang ku gores

Tulus rasa

            Sungguh diambang rencana

            Angka itu memelukku

            Dikala aku bersiap

            Tuk memapah kekalahan

Sesungguhnya

Ku goreskan tinta

Hanya tuk mencoba

Dan ternyata

Kita dapat terbang bersama

            Terima kasih ya Allah

            Dan terima kasih tuk semua

                                                                                                            Jun ‘11 (Anis Faridah.)