Tengoklah Masa Depan

Aku berbisik pada lorong ini

Sendiri, dalam sepi

Aku tak mengenalmu seperti mereka

Kita tidak terikat apapun

            Sial, alam seperti tertawa

            Sedangkan aku tak tahu harus apa

            Berpasrah diri dan percaya akan takdir?

            Itu bukan usaha

Lalu aku harus bagaimana?

Agar kita dapat bersatu

Percaya, berduka dan tertawa

Bersama

            Namun,

            Hidup bukan hanya tentang aku dan kamu

            Banyak yang harus aku beri untaian emas dan berlian serta mawar

            Dan pada akhirnya

            Mungkin ini jalan yang terbaik

            Tetapi, pastinya..

            Tengoklah saja masa depan

            Antara aku dan kamu

Maret ’14 (Zulfa Husna.)

Iklan

We Can Fly Together

Speaker mungilku berbusa

Memekikkan seribu bahasa

Demi menjinjing sahabatku

Ke dalambalutan emas

Dan takkan ku biarkan ia

Tersia detik ini

            Bola terang sunggingkan senyumnya

            Pada kita

            Yang tengah tertawa mesra

            Tak peduli

            Pada lambaian angina

            Yang memanggil berulang

            Entah untuk apa

Dia berusaha kepakkan sayapnya

Sementara aku

Tersibukkan dengan berjuta tarian

Tuk menimbun keinginan

Dan persiapkan tundukan

Memandang barisan ilalang kerdil

Tegang

            Bulatan biru mencibirku

            Semburkan pahit

            Yang mungkin terjepit di telinga

            Diantara sedakan dosa

Jantungku berhenti berdetak

Ketika ku sadari

Seuntai bunga menanti senyumku

Karma ia membaca

Seuntai kata yang ku gores

Tulus rasa

            Sungguh diambang rencana

            Angka itu memelukku

            Dikala aku bersiap

            Tuk memapah kekalahan

Sesungguhnya

Ku goreskan tinta

Hanya tuk mencoba

Dan ternyata

Kita dapat terbang bersama

            Terima kasih ya Allah

            Dan terima kasih tuk semua

                                                                                                            Jun ‘11 (Anis Faridah.)

Segalanya Lebih Baik

Segalanya lebih baik ditahun ini Tuhan. Aku bertermakasih karena telah membuatku merasa lebih baik. Dan aku berharap ini akan terus berlanjut lebih baik sampai pada akhirnya. Maafkan aku Tuhan jika aku dahulu lebih memilih putus asa. Aku percaya kau selalu mendengar doa hambamu, aku berharap aku bahagia dengan caramu memperlakukan dan mengujiku dan sampaikanlah maafku untuk mereka yang mungkin tanpa atau dengan sengaja telah kusakiti. Semoga engkau mengabulkannya. Amin.

Aku Masih Tak Sanggup

Halo selamat malam kamu.
Kamu yang terkadang masih selalu kurindukan, kamu yang mungkin masih ada dihatiku, dan kamu yang masih sering lewat dalam pikiranku. Aku mungkin memang telah sedikit terlepas dari bayangmu, namun aku masih tak sanggup jika harus benar-benar terlepas darimu. Terkadang, aku menyesal jika melihat kembali pada kenangan yang kita lukiskan. Terlalu indah untuk diakhiri dan dilupakan. Kamu? Bagaimana dirimu hari ini? Bagaimana tentang pengganti diriku? Apakah dirimu telah menemukan? Ah iya dia. Dia yang akan menggantikan posisi diriku dihatimu. Aku benci jika harus menyebut kata dia diantara kita. Dia, seperti merusak semua tentang kita.  Hari ini terhitung 333 hari. Selalu angka 3. Itu angka bahagia untuk kita pada awalnya bukan? Dan pada akhirnya kita memang menyakiti diri sendiri karena kecerobohan diriku, dan angka itu pada akhirnya menjadi angka sial bagiku. Entah bagimu. Lalu, bagaimana dengan hasil ujianmu? Bisakah dirimu menyelesaikannya dengan sempurna dan yakin atas jawabanmu? Aku berharap kau berhasil. Baiklah, aku kira cukup untuk hari ini. Semoga kau disana selalu dalam lindungan.
Selamat malam kembali, jaga kesehatanmu.
Salam hangat dariku.

Tau Rasanya?

Hai engkau. Hai kalian. Hai semua..

Masih ingatkah kalian dengan aku? Sosok yang pernah kalian sakiti. Sudah terlalu lama memang utuk mengingat semua yang telah kalian lakukan. 3 tahun yang lalu, aku merasakan rasa itu. Rasa yang mungkin kalian tak ingin merasakannya. Rasa sakit hati, tertindas, terkucilkan, dan rasa ingin mati saja. Aku pupus hidup. Serba salah rasanya jika menjadi aku. Pertama, aku harus masuk kedalam hal baru yang sama sekali aku belum pernah merasakan dan membayangkannya. Dan yang terjadi adalah sebuah perasaan aneh, tidak nyaman. Lalu, aku kehilangan 2 orang berharga dalam hidupku. Sahabat dan orang terkasihku. Jangan tanya bagaimana rasanya, terlalu sakit untuk membayangkannya kembali. Pada saat itu aku masih bisa bertahan, lalu cobaan muncul satu persatu. Kadang, aku berfikir ‘Apakah ini memang yang terbaik menurut Tuhan?’. Mungin iya. Setelah itu,aku merasakan bagaimana rasanya tidak ingin hidup didunia ini, sempat aku merasa bahwa memang aku akan mati meninggalkan dunia ini, hampir sekitar 3 hari aku merasakan akan kembali kepada-Nya. Namun entah mengapa perlahan rasa itu menghilang. Mungkin Tuhan masih ingin melihat seberapa kuat aku hidup menghadapi cobaannya. Kalian, ya kalian yang menganggapku sebelah mata. Hey kalian, jangan melihat orang hanya dari apa yang terlihat. Kalian tidak mengerti bagaimana sebenarnya aku, bagaimana jalan hidupku, bagaimana kenyataan yang harus aku hadapi, dan kalian juga tidak mengerti rasanya seperti aku. Aku hanya merasa kalian melihat sesuatu dari luarnya, lalu menghakimi sendiri bagaimana dia. Apakah itu namanya egoisme? Tolonglah, hilangkan sifat kalian yang merugikan kalian sendiri itu. Mungkin memang bukan dahulu saat 3 tahun lalu kalian merasakan bahwa apa yang kalian lakukan itu salah dan merugikan. Namun mungkin sekarang kalian menyadarinya, aku juga sudah tidak mengerti bagaimana kehidupan kalian saat ini. Apakah sukses atau tidak, dan aku juga sama sekali tidak ingin mencari tau. Aku tidak ingin menguak dan kembali membuka luka yang memang selama ini aku telah berusaha menutup dan melupakannya. Marah? Tidak, aku telah memaafkan kalian semua. Walaupun memang sedikit rasa dendam masih membekas dihati ini. Oh iya, apakah kalian tau apa lagi yang aku rasakan? Rasanya aku tidak ingin bertemu kalian, kata-kata yang kalian katakan terkadang tak mengenal tempat dan waktu. Seenaknya saja kalian menyindir aku. Aku tidak sekuat yang kalian lihat, aku terluka. Batin inni tersayat, namun yasudah mau bagaimana lagi. Toh itu juga hanya kehidupan sementara, setelah itu aku pasti akan kembali memasuki kehidupan baru tanpa kehadiran kalian. Dan terimakasih untuk kalian yang telah memberi pelajaran untukku..

Dan sekarang, 3 tahun setelah kejadian tersebut berlalu aku telah bahagia dan bangkit bersama orang yang memang memahamiku dan tidak seperti kalian. Salam.

Seandainya, trus mau apa?

Gimana kalo apa yang ada di diri lo semuanya serba salah? Selalu dianggap negatif dan gak pernah dihargain? Ya walaupun emang sebenernya banyak negatifnya, tapi mereka gatau dan gak nyari tau sisi baik lo. Cuma nyari kesalahan. Apalagi sebenernya lo ada niat berubah, tapi gara-gara satu kesalan sepele, lo lagi-lagi dianggap buruk dan negatif. Sedih gak? Iyalah sedih. Dituduh yang mnurut lo, lo itu gak gitu. Sebel kan? Pasti. Tapi menurut mereka, mereka yang bener dan kita yang salah. Jadi mau apa dong?